Allah-lah yang menjadikan tertawa dan menangis.....
Allah-lah yang menjadikan kematian dan kehidupan
Allah-lah yang menjadikan laki-laki dan perempuan.
Allah-lah yang menjadikan kekayaan dan ...........???
Silahkan anda jawab...!!!
Allah-lah yang menjadikan kematian dan kehidupan
Allah-lah yang menjadikan laki-laki dan perempuan.
Allah-lah yang menjadikan kekayaan dan ...........???
==================================================================
- Pertama, empat kalimat diatas nampak semacam antonim atau lawan kata.
- Kedua, lawan kata dari kekayaan pastilah kemiskinan...
- Maka, jawaban anda pasti KEMISKINAN. Benarkah begitu...???
- Benarkah jawabannya adalah KEMISKINAN...???
- Ternyata salah..!!! Karena jawaban yang benar adalah: KECUKUPAN.
Sejak awal Allah Ta'ala telah mempersiapkan manusia agar beruntung, kaya, kuat, sehat, selamat, aman dan sejenisnya. Jika terjadi yang sebaliknya menimpa kita, sekali lagi itu salah manusianya. Baca surat 4:79, 36:19, dan surat 42:30 yang intinya; segala kebaikan dari Allah SWT. sementara keburukan, kerusakan dan musibah akibat kebodohan manusianya.
Allah yang Maha Kaya menghendaki hamba-hamba-Nya untuk menjadi kaya. Buktinya, sampai saat ini kami belum menemukan satupun ayat atau hadist yang menganjurkan manusia miskin. Yang ada justru ayat dan hadist tentang mensikapi kemiskinan.
Inilah pesan manusia mulia Muhammad SAW:
- Sesungguhnya kemiskinan mendekatkan kepada kekufuran.
- Allah SWT. lebih mencintai hamba-Nya yang kuat dari pada yang lemah.
- Meninggalkan ahli waris dalam keadaan cukup, lebih baik dari pada dalam keadaan fakir.
- Menyantuni mereka yang lemah
- Berangkat Haji
- Beramal jariah
- Menegakan ekonomi syariah
- Jihad bil Maal fii sabilillah
- Meningkatkan bargaining position umat
Tetapi Nabi tidak menanggapinya dengan seperti itu, tidak! sekali lagi ti...dak!!, tidak, Nabi SAW. panutan seluruh umat Islam itu segera mengutus Abdurrahman bin Auf untuk mengusai balik pasar. Dan mengutus Abu Bakar As Sidiq untuk membeli sumber air itu. Karena Manusia mulia ini paham sepaham-pahamnya, pasar dan sumber air sangat penting bagi kemaslahatan ummat. Maka nabipun tidak mau bersikap lemah.
Terlihat jelas di sini. Alih-alih nerimo, Nabi malah menganjurkan dan mengajarkan kita untuk menang di dunia dan akhirat. Ajuran dan ajaran itu dibumikan oleh Abdurrahman bin Auf dan Abu Bakar dengan memberdayakan kekayaan mereka. Bayangkan, tanpa kekayaan, apa yang terjadi? Yah, sebaliknya, bargaining umat merosot. Persis seperti sekarang.
Bagi Anda yang masih ragu untuk kaya, tolong jawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
- Inginkah Anda memberangkatkan orang tua dan mertua Anda berhaji?
- Inginkah Anda memberangkatkan orang tua dan mertua Anda berumrah setiap tahun?
- Inginkah Anda berlibur dengan fasilitas terbaik bersama istri Anda setiap tahun?
- Inginkah Anda memberikan rumah dan mobil terbaik untuk keluarga Anda?
- Inginkah Anda memberikan pendidikan terbaik untuk anak dan keponakan Anda?
- Inginkah Anda memberikan perawatan terbaik untuk anak dan keponakan Anda, ketika mereka sakit?
- Inginkah Anda membantu anggota keluarga dan tetangga Anda yang kekurangan?
- Inginkah Anda membantu orang-orang yang telah berjasa kepada keluarga Anda?
Terkadang, kita enggan dan sungkan bicara soal uang, terus mencari alasan-alasan yang menghibur diri, "Yang penting itu kaya hati, bukan kaya harta. Tidak semuanya bisa dibeli dengan uang. Sedekah tidak harus dengan berbentuk uang," Memang, peryataan-pernyataan barusan seratus persen benar- tak terkecuali. Cuma, uang tetap saja sangat penting, karena dengan uang kita lebih mudah dalam ibadah dan manfaat.
Kaya Ha-Ti memang lebih penting. Maksudnya kaya harta dan properti.
Kaya bukan berarti selalu diperbudak oleh harta, justru sebaliknya kebanyakan orang miskinlah yang di perbudak. Walaupun tidak berharta, namun siang-malam masalah yang mereka hadapi berkaitan dengan ketiadaan harta. Anak putus sekolah, sakit tidak mampu berobat, tidak ada yang buat makan, dan lain-lain.
Sungguh mereka tidak kaya hati.
Pun demikian tidak sedikit orang kaya yang mampu menundukan harta, bukan menjadi tujuan melainkan sekedar alat untuk memudahkan ibadah dan menebar manfaat.
Sungguh mereka itulah yang patut disebut dengan kaya hati.
Sekali lagi lihatlah Nabi SAW., dan para sahabat beliau:
- Mereka kaya, akan tetapi tidak cinta dunia.
- Lha. kita ...? Sudahlah kere, eh tergila-gila pula dengan dunia.
- Dalam membangun peradaban mereka mengutamakan masjid dan pasar, melambangkan keseimbangan dunia dan akherat. Bukan salah satunya.
- Lha, kita...? ekonomi terpuruk masjidpun mau ambruk.
- Mereka memastikan menang di dunia (dalam segala aspek, mulai dari ekonomi, militer, sampai iptek) juga menang di akhirat. Bukan salah satunya.
- Lha kita? Dunia, tidak jelas. Akhirat, amblas babar-blas!
- Daripada tersinggung, mendingan berubah dan berbenah.
Kami Berharap Masukan Saran dan Kritik dari Anda Out Of Topic Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon